Puisi Sahabat dan Indonesia Dari SMPN 1 Karangampel

659

Indonesia                                                   Puisi: Yulinarsih Saraswati

Indonesia….oh Indonesia
tahun ke tahun usiamu terus bertambah
tapi mengapa bangsa ini tak maju-maju
tapi mengapa bangsa ini masih dipenuhi kebohongan

Semua penuh kepalsuan
semua penuh kepicikan
bagaimana dengan generasi muda
lalu bagaimana dengan kemakmuran bangsa

Sekarang hancurkan sikap negatif
hilangkan kepcikan dan kepalsuan
mulailah menuju jalan kebenaran
mendaki tangga perjuangan

Di arena pergulatan ini
kalah menang adalah proses dan waktu
peluh adalah sahabat
keletihan adalah obat
demi terwujudnya generasi muda yang bermanfaat

Jadi
jangan terbuai pada kepalsuan
ayo kepalkan tanganmu ke angkasa
bangun etika karakter anak pewaris bangsa
dan bagkitlah dari keterpurukan

Indonesia….
bangsa besar kaya berbudaya
budaya yang sedikit tapi murni
dari pada banyak tapi budaya korupsi

O pewaris muda bangsa
kuatkan karakter kita sebagai pemuda
jaga hormati warisan budaya bangsa
dan tinggalkan warisan budaya penguasa
 
Kelas IX G
SMPN 1 Karangampel – Indramayu

Sahabat                                                      Puisi: Dwi Ratna Sari

Sahabat, engkau bagaikan matahari
disaat  kubersedih kau selalu hadir
kaulah pelengkap hidupku

Tawa dan canda
selalu muncul di hari-hariku
kau pergi, kau datang

Tuhan, aku mohon
jangan pisahkan aku dengannya
karena hanya dialah
yang mampu mengobati rasa rinduku

Sahabat, kaulah segalanya bagiku
aku tidak bisa hidup tanpamu
kau dan aku tidak bisa terpisahkan

Kelas IX
SMPN 1 Karangampel – Indramayu

Puisi Sahabat dan Indonesia
Dari SMPN 1 Karangampel

oleh: Acep Syahril

Seperti waktu-waktu sebelumnya aku pernah punya pengalaman sama, ketika Kepala Sekolah yang kudatangi ke sekolahnya sulit untuk percaya pada pengakuanku. Kalau aku tengah menjalani kegiatan khusus memberikan ekstrakurikuler apresiasi sastra di sekolah-sekolah di tingkat SMP, M.Ts, SMA, SMK dan MA.
Ketidak percayaan mereka jelas aku maklumi, sebab ketika aku datang ke sekolah tanpa ada pemberitahuan plus tidak membawa sepotong suratpun untuk bisa menyakinkan pihak sekolah. Kedua kedatanganku hanya mengenakan pakaian biasa, tak bersapari, tak berdasi dan tak bersepatu formal. Hal ini jugalah kemudian yang membuat Kepala SMP Negeri 1 Karangampel – Indramayu, Hj. Eni tak percaya. Tapi setelah kuyakinkan dengan memaparkan program kerjaku, barulah beliau mengizinkanku masuk kelas tanpa bayaran.
Aku sengaja berpenampilan dan bergaya seperti ini, sebagaimana caraku yang sejak dulu yang dianggap kontroversi karena tiba-tiba datang membacakan sajak di hadapan orang-orang yang tak pernah kukenal. Aku melakukan hal ini semata-mata haya ingin meyakinkan dunia pendidikan bahwa sastra bukanlah cabang dari kesenian, tapi cabang ilmu (pengetahuan) yang berdiri sendiri dan memiliki definisi:

Sastra adalah segala sesuatu yang ditulis
Sastra adalah segala yang ditulis dan menjadi buku yang terkenal, baik dari segi isi maupun bentuk sastranya
Kesustraan adalah kumpulan buku yang indah bahsa dan baik isinya
(Drs. Ahmad Badrun; Pengatar Ilmu Sastra (Teori Sastra), 1983).
Beberapa waktu kemudian oleh Ibu Eni aku dikenalkan kepada salah seorang guru perempuan, yakni Nur Arofah, Guru Komputer yang mengajarkan komputer dan informatika di sekolah itu, bersama Nur Arofah aku masuk kelas IX G. Dikatakan Nur Arofah bahwa di sekolahnya banyak kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) yang diikuti siswa, selain paskibra, palang merah dan ke pramukaan ada juga kegiatan ekskul lain untuk mendongkrak pengetahuan, pengalaman serta materi yang berhubungan mata pelajaran.
Ketika aku menanyakan tentang sastra atau yang berhubungan dengan karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, roman dan sejenisnya, mereka semua tahu. Tapi pengetahuan mereka tentang pelajaran kesustraan baru sebatas persoalan mengarang termasuk juga puisi.
Ketika aku bertanya nama-nama penyair di Indonesia yang berhubungan dengan puisi, mereka hanya mengenal nama-nama seperti Taufiq Ismail dan Chairil Anwar. Selanjutnya mereka tidak tahu tentang apa, bagaimana dan ada apa dengan pelajaran yang berhubungan dengan kesusasteraan.
Namun demikian di kelas ini aku tidak memperkenalkan secara langsung bagaimana kerja otak seorang penulis atau penyair untuk menulis puisi atau sebuah karangan. Aku lebih banyak memperkenalkan mereka pada beberapa hal yang berhubungan dengan kepekaan seseorang terhadap diri, lingkungan keluarga, lingkungan luar rumah dan lingkungan makro, dengan mengaktifkan otak sebelah kanannya.
Kurang lebih 1 jam 30 menit berinteraksi di depan kelas, kemudian aku memberikan waktu 15 menit pada mereka untuk menulis puisi. Dari banyak seluruh siswa yang menulis aku mendapatkan 2 puisi yang kuanggap menarik. Yakni puisi “Indonesia” karya Yulinarsih Saraswati dan puisi “Sahabat” karya Dwi Ratna Sari. Kedua puisi ini memiliki tema serta ide yang berbeda, dengan semangat dan pilihan objek yang juga berbeda.
Kalau Yulinarsih Saraswati lebih memilih tema sosial yang idenya diangkat dari berbagai persoalan yang (mungkin) informasinya dia peroleh dari surat kabar atau media eletronik. Sedangkan Dwi Ratna Sari lebih memilih tema persahabatan yang gaya ungkapnya memiliki tafsiran ganda.
Sebab sahabat yang dimaksud Dwi di sini sepertinya bukanlah sahabat biasa, sebab dari penuturannya memiliki makna ganda. Artinya sahabat dalam artian teman biasa atau sahabat yang memiliki tautan hati dua lawan jenis? Soalnya pada bait pertama sahabat yang dimaksud Dwi bermakna mencurigakan:
Sahabat, engkau bagaikan matahari
disaat  kubersedih kau selalu hadir
kaulah pelengkap hidupku
Ungkapan metafor, sahabat engkau bagaikan matahari, adalah sosok yang selalu hadir ketika dirinya bersedih. Lalu pada baris ketiga ditegaskan kaulah pelengkap hidupku.
Rasanya jarang sekali kita bisa menemukan sahabat yang seperti ini, mungkin dari seratus sahabat belum tentu satu dari mereka yang mau menjadi sahabat kita pada saat menangis.
Selain itu ada penekanan kecurigaan pada puisi Dwi ini, yakni pada bait terakhir:
Sahabat, kaulah segalanya bagiku
aku tidak bisa hidup tanpamu
kau dan aku tidak bisa terpisahkan
Apakah benar ini sahabat atau teman biasa yang dimaksud Dwi. Semua itu kita kembalikan kepada pembaca.
Sementara Yulinarsih Saraswati sibuk memotret berbagai persoalan sosial yang terjadi di negeranya, Indonesia. Dari mulai persoalan korupsi, kesenjangan sosial, ketidakjujuran pemerintah pada rakyatnya, krisis moral, krisis jatidiri yang kemudian pada bait terakhir puisinya diperkuat dengan semangat meyakinkan para pemuda Indonesia untuk bangkit dengan memperkuat karakter anak bangsa. Agar tidak terus menerima warisan kolonial yang lebih menonjolkan sikap penguasa yang senantiasa selalu minta dilayani dan memperkecil makna rakyat.
O pewaris muda bangsa
kuatkan karakter kita sebagai pemuda
jaga hormati warisan budaya bangsa
dan tinggalkan warisan budaya penguasa
Sebagai siswa SMP yang masih duduk di bagku kelas III Sasraswati memiliki kepekaan pandangan yang jauh ke depan. Walaupun semua itu dia peroleh dari informasi media eletronik atau surat kabar, tapi ini membuktikan betapa dunia informasi di era keterbukaan ini sudah menjadi konsumsi seluruh lapisan, termasuk Saraswati.
Pada puisinya di bait ke enam Saraswati juga menyinggung krisis jatidiri yang dia ungkap secara metafor, namun cukup mengena.
Indonesia….
bangsa besar kaya berbudaya
budaya yang sedikit tapi murni
dari pada banyak tapi budaya korupsi
Sebagai bangsa besar dengan budaya “jujur dan benar” di era pergaulan ini jumlahnya tentulah sangat sedikit, dari pada banyak tapi yang banyak itu budaya korupsi. Sungguh satir.
Di sisi lain Saraswati juga sedikit menyinggung persoalan jatidiri bangsa yang sebenarnya ada di pundak para pemuda, yang dalam hal ini diungkap secara konvensional.
O pewaris muda bangsa
kuatkan karakter kita sebagai pemuda
jaga hormati warisan budaya bangsa
Bagaimana tidak kegelisahan ini muncul dalam fikiran Saraswati, ketika dia membaca banyak buku dan media eletronik yang menayangkan tentang kekayaan budaya serta kekayaan kesenian daerah yang begitu besar. Namun di sisi lain dia menyaksikan para pemudanya sangat merasa bangga dengan kebudayaan bangsa lain, sebagaimana dipertontonkan kelompok Cherrybelle yang meniru Girls Generation kelompok penyanyi asal Korea itu. Atau Super9boys yang merasa bahagia dan dengan mantap meniru habis-habisan gaya serta budaya kelompok penyayi asal Koreoa juga.
Hal ini ditekankan oleh Saraswati pada puisinya O pewaris muda bangsa/kuatkan karakter kita sebagai pemuda.

lahir di kuningan jawa barat

Baca Juga

621

551