Unik, Nikah Diarak Onthel

219

Nikah Diarak Onthel Akan DIjadikan Tradisi

Tempuran- Pemuda di Dusun Pakeron Desa Sumber Arum Kecamatan Tempuran mempunyai  cara unik merayakan pernikahan. Seperti halnya dengan pernikahan Dahri (27) warga setemat yang meminang Mutmainah (22) warga Brengkel II Salaman diarak oleh puluhan pengguna sepeda onthel saat mengantar dan menjemput ke dua mempelai tersebut.

Puluhan pemuda dengan menaiki sepeda onthel menyisiri jalan, sontak prosesi yang unik tersebut mengundang perhatian warga . prosesi serupa sudah dilakukan 2 kali merayakan pernikahan oleh warga setempat. Direncanakan kebiasaan tersebut akan dijadikan cirri khas dan tidak akan pernah dihilangkan.

Dahri dan Mutmainah duduk di sebuah delman yang sudah dimodifikasi dengan janur kuning. Mereka duduk manis di kursi belakang kusir, sementara 50 pemuda lainnya berada didepan delman mengendarai sepeda onthel dengan atribut perlengkapan VOC beserta sepedanya berhias janur kuning pula.

Kedua mempelai pun terkesan mesra, karena Mutmainah sempat digendong Dahri ketika naik dan turun dari Delman. Perjalanan menempuh jarak kurang lebih 10 KM tersebut dihabiskan dalam waktu 8 jam.

“Acara ini sudah ke 3 kalinya berlangsung di kampung kami yang digalakkan oleh Pemuda sekitar tanpa ada komunitas. Namun kami ingin keunikan desa kami dengan ngur uri budaya daerah salah satunya dengan sepeda onthel ini,” ujar Ahmadi pengantin mempelai pria saat dijumpai kemarin.

Dia juga mengatakan acara tersebut juga untuk mendukung program pemerintah untuk mengurangi pemborosan energy serta supaya terkesan natural. “Dengan bersepeda selain menjadikan kita sehat, kita juga tidak menggunakan bahan bakat bersubsidi,” tambahnya.

Menurutnya, rombongan start dari rumahnya pukul 07.00 sesampai di Desa Brengkel pukul  11.00 wib dilanjutkan kembali lagi pukul 13.30. dia juga tidak menyangkan dengan rangkaian acara tersebut ternyata lebih meriah.

Dikatakan oleh salah satu warga sekitar, Joko penggagas budaya tersebut mengatakan rencananya budaya tersebut akan dijadikan budaya warga sekitar ketika tengah melakukan pernikahan. Meski terbilang cukup melelahkan namun rasa kebersamaan dan semangat akan lebih terasa dengan model tersebut.

Dia juga mengatakan karena jaraknya cukup panjang kurang lebih 10 KM sehingga perjalanan pun sempat terhenti selama 3 kali. “Ketika berangkat kami berhenti di Meteseh Tempuran untuk minum dan di Pasar Salaman karena menunggu kesiapan dari rumah mempelai putrid. Pada pulangnya kami sempat berhentu di Banjaran karena kudanya kelelahan dan lapar sehingga makan,” katanya.

Dia juga mengungkapkan kalau sepeda yang digunakan milik warga pribadi bahkan terkadang digunakan ke sawah ketika tidak digunakan untuk mengarak nikahan. Sehingga malam sebelum digunakan mereka memodifikasi sepeda tersebut serta meneliti jika ada kerusakan. Untuk antisipasi, mereka juga telah membawa kunci, pompa dan roda cadangan jika dibutuhkan.

Dia berharap tradisi tersebut bisa turun temurun pada anak cucu mereka. “Dengan adanya tradisi seperti ini kebersamaan keakraban di kampung kita lebih terjaga,” tegasnya.pernikahan

 

berpengalaman dibidang jurnalistik 2 tahun