Presiden SBY Buka Pagelaran PKA – IV Aceh

670

BANDA ACEH – Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara resmi membuka pagelaran Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke- VI di Taman Shultanah Safiatuddin Banda Aceh, Pagi tadi, Jumat (20/9/2013). Acara berlangsung sangat meriah dan semarak dengan menampilkan tarian massal multi-culture Aceh yang dipersembahkan oleh 370 putra-putri Aceh, juga penampilan Rapai Pase dan persembahan Seurune Kale.

PKA adalah event terbesar yang menyimpan sejarah peradaban Aceh. Ajang kebudayaan tersebut bertujuan untuk mengembalikan identitas, harkat, dan martabat budaya Aceh. PKA -VI yang mengusung tema “Aceh Satu Bersama” (satu sejarah dan satu budaya) diikuti oleh 23 kabupaten dan kota se-Aceh. Masing-masing kab/kota akan menampilkan kekayaan dan kearifan lokal melalui kegiatan-kegiatan lomba seni budaya, pameran dan eksibisi. Event tersebut digelar tanggal 20 hingga 29 September mendatang.

Tepat pukul 09.00 WIB Presiden SBY tiba dan memasuki kompleks arena PKA, SBY dan Ibu Yudoyono yang didampingi oleh sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu juga disambut ribuan pelajar SMA dan SMP yang berdiri di trotoar jalan menuju Taman Shultanah Safiatuddin.

Tiba dengan menggunakan club car (mobil mini), SBY yang tampil dengan mengenakan pakaian adat kebesaran masyarakat Aceh, langsung disambut oleh Gubernur, Wakil Gubernur dan Ketua DPRA yang juga mengenakan pakaian kebesaran adat Aceh. Kemudian Presiden dan Ibu Ani Yudoyono langsung menuju panggung utama PKA diiringi tarian.

Di mimbar utama, turut hadir Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Mohammad Nuh, Menkokesra Agung Laksono, Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Kesehatan, Hafsiah Mboi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu. Selanjutnya, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Ir. Azwar Abubakar, Wakil Ketua MPR-RI Ahmad Farhan Hamid, mantan Menteri BUMN Dr. H. Mustafa Abubakar, Ka, BIN, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo, jajaran anggota DPR-RI asal Aceh, Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan jajaran Muspida Aceh.

Sebelum dibuka secara resmi oleh SBY, Bupati Aceh Tengah Ir. Nasaruddin terlebih dahulu menyerahkan piala bergilir PKA kepada Ketua Panitia yang juga Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang selanjutkan disampaikan kepada Gubernur Aceh, dr. H Zaini Abdullah. Aceh Tengah merupakan juara umum PKA-V yang dilaksanakan pada tahun 2009 silam. Di event pembukaan juga dilakukan penglepasan balon motto PKA, “Aceh Satu Bersama”.
Prosesi pembukaan event kebudayaan 4 tahunan itu dimulai dengan persembahan lagu Indonesia Raya disusul pembacaan ayat Suci Alquran. Selanjutnya shalawat badar dan disusul dengan sambutan Gubenur Aceh.
Dalam sambutannya, Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah atau populer dengan sebutan Doto Zaini, mengucapkan terimakasih kepada Presiden RI beserta Ibu Ani Yudoyono dan seluruh jajaran Kabinet Indonesia Bersatu, yang berkenan menghadiri pembukaan PKA ke-6.

Doto Zaini memaparkan, Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) adalah sebuah momen pagelaran khasanah budaya rakyat yang telah berlangsung di Aceh sejak 1958. Pada awalnya PKA ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat rasa persaudaraan sesama rakyat Aceh melalui kegiatan budaya dan syi’ar agama.

“Sebab bagi masyarakat Aceh, budaya dan Syariat Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan”, tuturnya.
Hal ini, tambah Doto Zaini, tergambar dari hadih maja atau pepatah Aceh, yang menyebutkan, Adat bak Poteumeurohom, Hukom bak Syiah Kuala, Kanun bak Putro Phang, Reusam bak Laksamana.

“Kalau diterjemahkan secara bebas, artinya, “Penerapan hukum di bawah tanggung jawab Pemerintahan, Penegakan syariah agama di bawah tanggung jawab ulama, penghormatan adat-istiadat di bawah tanggungjawab tokoh adat, dan kearifan lokal menjadi tanggung jawab para tokoh masyarakat,” Jelasnya.
Terkait dengan pembangunan di Aceh, Doto Zaini mengakui masih banyak impian kita yang belum dicapai. Bahkan, katanya, dengan tingkat kemiskinan yang berada pada titik 18,58 persen, Aceh masih tergolong sebagai daerah termiskin di Indonesia.

“Perlu kerja keras kita semua untuk mendorong agar cita-cita memakmurkan rakyat Aceh bisa kita capai. Untuk itu, kami selaku kepala Pemerintahan Aceh bertekad akan bekerja keras menjalankan program pembangunan yang pro poor, pro growth, pro job dan pro development, sebagaimana strategi pembangunan yang dicanangkan oleh Bapak Presiden”, kata Gubernur.

Khusus Kepada Presiden, Doto Zaini mengharapkan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat untuk Pemerintah Aceh dan rakyat di tanah Rencong ini.

“Ada banyak sektor yang butuh sentuhan dari Pemerintah pusat, antara lain bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pariwisata dan keberlanjutan perdamaian. Dan, kami mengucapkan terimakasih atas komitmen Bapak Presiden yang bertekad menyelesaikan sejumlah RPP dan Perpres yang belum tuntas, untuk diselesaikan tahun ini. Penyelesaian RPP dan Perpres itu, Insya Allah, akan ndorong percepatan pembangunan Aceh dan memberi daya dukung yang kuat bagi keberlanjutan perdamaian di daerah ini,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, dalam sambutannya menyampaikan dukungan sebesar-besarnya kepada pemerintah Aceh dalam membangun Aceh di berbagai sektor. Presiden SBY juga meminta seluruh rakyat Aceh untuk selalu menjaga perdamaian.

“Rawatlah perdamaian agar abadi, sehingga pembangunan dan kesejahteraan yang dicita-citakan dapat kita capai,” ujarnya.

Untuk pembangunan sektor pendidikan Aceh, kata SBY (menjawab permintaan Gubernur Aceh), pada prinsipnya ia telah menyetujui universitas yang diusulkan untuk segera menjadi universitas negeri yaitu Universitas Samudra (Unsam) Langsa dan Universitas Gadjah Putih Takengon, juga pembangunan rumah sakit regional.

“Untuk menunjang fasilitas kesehatan di Aceh saya setuju dengan pinjaman luar negeri untuk membangun rumah sakit dimaksud. Juga untuk pembangunan rumah kaum dhuafa dan korban konflik,” katanya.
Presiden juga memberitahukan kembali bahwa pada tahun 2012 telah dibangun tiga ribu lebih rumah dhuafa dan tahun ini akan dibangun sebanyak tujuh ribu unit lebih.

“Terkait RPP dan Perpres, saya sudah mendapatkan laporan jika hal itu tengah diproses dan akan segera selesai,”

Presiden juga menyampaikan dukungan sebesar-besarnya kepada pemerintah Aceh dalam membangum Aceh di berbagai sektor. “Di akhir masa jabatan saya sebagai Presiden di pengujung tahun 2014, saya berharap apa yang menjadi tanggung jawab saya untuk Aceh dapat saya wujudkan,” tutup SBY.

Suka berorganisasi dan gemar membaca...