Cerita Pendek Untuk Sahabat

580
Jelas menatap awan berarak..wajah murung semakin terlihat,..dengan langkah gontai tak terarah,..keringat bercampur debu jalanan”  Syair lagu itupun terus melantun dikamar seorang lelaki.
                                                                                      ***
chDipagi yang basah,seorang lelaki berjalan mengelilingi desa dimana ia baru menjalani kehidupan pada komunitas yang baru saja ia tinggalkan yaitu Jakarta.Bukan karena kalah dalam persaingan hidup tetapi ia mencoba untuk mengerti tentang hidup. Dia seorang lelaki setengah tua, baru setahun ia hidup didesa makanya ia mencoba untuk berkenalan dengan hidup yang sesungguhnya.
Selama ini memang ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan karier yang digelutinya, hingga ia lupa bahwa semua itu ada waktunya. Semua harus berjalan sesuai dengan kodrat alam yang telah Tuhan berikan pada kita sebagai umatnya.
Hampir empat puluh tahun ia habiskan hidup diJakarta yang penuh dengan romantika dan penuh dengan hingar bingarnya musik persaingan yang sangat ketat memekikan telinga hingga kita merasa lelah dengan persoalan kita masing-masing. Itulah hidup yang sarat dengan persoalan. Di usia yang seperti itu memang tak terlalu tua,mungkin bagi seorang yang cukup sukses usia seperti seorang lelaki itu sedang berada dipuncaknya. Sayang, lelaki itu hanya seorang karyawan kontrak, habis kontrak maka habislah semua apa-apa yang menjadi haknya sebagai karyawan.Apalah daya kekuatan hukumpun tak mendukung untuk menuntut.Memang sangat ironis dengan keadan seperti itu,berhenti bekerja tanpa pesangon atau uang pensiun untuk menikmati hidup dengan layak.
Untungnya lelaki itu sudah memiliki rumah, ia bangun setahun yang lalu disebuah desa yang saat ini ia baru tempati. Hasil dari jerih payahnya ia kumpulkan sedikit demi sedikit meski harus berhutang dengan bank. Ia masih bersyukur tidak memikirkan rumah, pasalnya banyak teman-temannya merasa begitu bingung dan terpukul ketika cicilan rumah baru setahun, tiba-tiba kontrak kerja habis dan tak diperpanjang. Apalah daya kami hanya pasrah pada keputusan yang mungkin agak menyakitkan. Kami memang  orang-rang yang tak berduit tidak seperti para pejabat yang bisa membeli hukum atau menyewa pengacara. Tapi kami bukan kumpulan orang-orang terbuang, kami juga sama dengan mahluk hidup yang lain. Perlu makan dan hidup dengan layak.
                                                                             ****
Tiba-tiba lelaki itu terpana dan menghentikan lamunannya. Ia terus berjalan menelusuri pagi. Matahari baru saja memancarkan sinarnya, burung-burung pun mulai berterbangan dan meloncat dari dahan kedahan yang lain untuk mencari rizki. Para petanipun sudah mulai giat dengan paculnya untuk bergelut dengan Lumpur. Mereka sangat rajin tanpa banyak yang harus mereka pikirkan. Lelaki itu mencoba untuk belajar dari petani itu seperti syair lagu Ebiet G Ade..Sesungguhnyalah aku ingin belajar sikap mereka menjalani hidupangin tolonglah bawakan aku sepotong kertas dan pena tajam.akan kutulis tebal-tebal pelajaranmu lewat diam.
Sahabat,..ini kutuliskan cerita pendek untuk kita jadikan bahan renungan kita. Ternyata masih banyak yang harus kita teruskan., jangan berputus asa,.. Gumam lelaki itu sembari memperhatikan petani itu yang sedari tadi bersatu dengan dinginnya pagi. Sementara semilir angin terus membawa suasana yang begitu dingin. Lukisan alam pegunungan menambah keharmonisan suasana pagi yang nampak berseri.
Punteen ?! Sapa seorang perempuan istri petani kepada lelaki itu yang sedang terpana oleh lamunannya. Oh,.iya,..silakan bu,.. jawabnya dengan sedikit gugup. Dihisapnya sebatang rokok kretek yang sudah mulai pendek.
Lelaki itu kemudian berjalan dipematang sawah , tiba-tiba ia berjumpa dengan seorang gadis kecil yang sedang membantu orang tuanya. Matanya begitu lugu, polos dan penuh barsahaja. Wach,.. rajin sekali desedang membantu abah yach ? Sapa lelaki itu kepada gadis kecil yang nampak begitu malu-malu dan hanya menundukan kepala memberi isyarat sembari tersenyum kecil.
Gadis kecil itu baru berusia sembilan tahun tapi ia begitu lihai dan penuh bersahaja tanpa menuntut apa-apa dalam membantu orang tuanya disawah maupun diladang. Hampir semua anak-anak baik laki-laki maupun perempuan didesa itu begitu antusias dan dan rajin tanpa mengenal panas atau udara dingin. Tidak seperti yang sering lelaki itu lihat selama ini kebanyakan anak-anak kota jam-jam seperti itu masih asyik bergeliat diatas kasur empuk atau bermalas-malasan didepan televisi apalagi pada hari minggu seperti ini sungguh jauh berbeda.
                                                                                       ****
Ia masih duduk kedinginan diteras rumahnya,ditatapnya dalam-dalam apa yang ada didepannya. Memang nampak begitu asri tapi apakah lelaki itu sedang menikmati atau jauh lamunannya kesuatu tempat, yang pasti lelaki itu nampak bingung apa yang harus ia lakukan untuk bercerita tentang hidup. Masih terngiang ditelinganya keputusan management yang diterimanya tentang keputusan sepihak yang menyebabkan lelaki itu terpaku dan kehilangan pekerjaannya. Meskipun baru mempunyai seorang anak tapi lelaki itu tetap saja merasa seperti kehilangan, was-was dan berbagai macam pikiran yang menghantuinya.
Beginikah sikap pemerintah yang tak mau membela rakyat kecil dan selalu melihat sepihak demi keuntungan belaka hingga nasib kami tergadaikan. Lelaki itu terus mengerutu memaki dan menyalahi sesuatu yang sudah terjadi pada dirinya. Itulah faktanya sejak peraturan outsorcing deberlakukan yang selalu membela para pengusaha tanpa memikirkan dampak sosialnya terhadap buruh kontrak yang jelas nasibnya tergadaikan oleh permaianan para elit yang berkepentingan. Tak heran banyak orang seperti lelaki itu yang terabaikan nasibnya demi perjuangan keluarganya yang terdesak oleh kebutuhan ekonomi yang tak jelas.
“Jelas menatap awan berarak/ Wajah murung semakin terlihat/ Dengan langkah gontai tak terarah/ Keringat bercampur debu jalanan,”. Syair lagu itu pun terus melantun terdengar diruang kamar seorang lelaki. Matanya masih berkaca-kaca memandangi gadis kecilnya yang baru saja merengek minta uang jajan. Batinnya sangat pedih tapi ia tak mau menampakan keresahan hatinya pada gadis kecilnya yang mungil dan lucu. Sesekali gadis kecil kesayangannya itu menatap sang ayah yang belum beranjak dari duduknya. Mungkinkah gadis kecil itu sudah mengerti kalau ayahnya sedang bingung?Meski ia tahu dan sering menasehati dalam ceritanya ataupun dalam filosofnya tentang arti hidup yang harus dijalani. Tapi ia tetap manusia biasa yang terkadang goyah oleh keadaan.
Banyak cerita yang sudah ia tulis, banyak pengalaman yang sudah ia alami. Lelaki itu tetap saja merasa kebingungan untuk melangkahkan kelanjutan hidup. Karena ia tahu hidup ini bukan hanya filosof atau juga cerita tapi perlu makan dan hidup seperti yang diinginkan tapi jangan seperti para koruptor.
Cerita pendek ini ditulis untuk seorang sahabat, untuk kita yang sedang bingung, mari coba kita pelajari lagi arti yang sebenarnya tentang hidup. Jangan goyah,..hidup harus kita jalani seperti yang sudah digariskan Tuhan. Mari coba kita memohon padanya, jadikan semua pelajaran bagi kita,lihatlah burung-diluar sana. Mereka tetap diberikan rizki oleh Tuhan.
Lihatlah para petani diladang, mereka tak memiliki gaji tapi mereka bisa bertahan dan menafkahi keluarganya. Meski hidup dalam kesederhanaan dan sangat bersahaja. Perjalanan hidup seseorang sudah ada yang mengatur,besok begini dan lusa lain lagi.
Jangan kita terpuruk oleh keadaan. Masih banyak yang harus kita benahi, mulailah dan awali dengan nyanyian angin pagi atau musik manis agar kita tetap hidup penuh dengan senyum.
Lihatlah pejuang-pejuang hidup, musisi jalanan,pedagang asongan dipinggir pinggir jalan dengan gigihnya mempertahankan hidup. Kita diberi akal dan fikiran oleh Tuhan agar kita bisa membawa diri ini untuk tetap hidup. Coba kita tengok Adam dan Hawa diturunkan kebumi ini tanpa dibekali apa-apa oleh Tuhan tapi mereka tetap bertahan dan berjuang sampai akhirnya kembali bertemu.
Istriku,..marilah kita berdoa,..sperti yang pernah ibu ajarkan,..Tuhan bagi siapa sajalihatlah anak kita terdidur dipingir jalan,erat memeluk guling menahan lapar esok hari..masilah teramat panjang mari tidurlah lupakan sejenak beban derita Demikian syair lagu Ebiet G Ade menasehati istrinya tentang perjuanagan hidup.
                                                                                     ****
Secangkir kopi hangat baru saja diserudup oleh lelaki itu diteras depan rumahnya. Pagi ini ia mulai merasa tenang setelah solat dhuha yang baru saja ia kerjakan. Segala daya upaya telah ia serahkan pada yang yang memiliki hidup. Tuhan bagi siapa saja dengan meminjam syair lagu, ia panjatkan doa untuk bertakwakal, sebab hidup ini harus dilanjutkan dan perahu yang sudah ada ditengah lautan harus dipertahankan jangan sampai goyah atau terombang-ambing ditelan ganasnya badai.
Dengan bermodal cinta kepada sibuah hati, lelaki itu bertekad akan terus berjalan mempertahankan hidup. Jadi apa saja demi perjuangan hidup.
sahabat, seorang lelaki tidak boleh takut akan hidup, jangan kita terlena oleh keadaan, mari kita bangkit. Seorang lelaki harus berani mempertahankan hidup. Seorang lelaki bisa jadi apa saja, jadi petani,pedagang, penulis meskipun hanya menjual mimpi lebih baik usaha dari pada tidak. Arswendo pernah berkata mengarang lebih mulia dari pada menganggur.
Demikian lelaki itu mengakhiri ceritanya sembari menyerudup kopi hangat yang sedari tadi mulai dingin. Angin pagipun mulai berhembus membisikan pada suasana hati bahwa hidup masih panjang bersama perjalanan waktu yang akan bercerita tentang nyanyian angin pagi.
                                                                                          Selesai.
 

 

Berlangganan Berita via Email :

Tinggal di Bekasi, selain menulis,fotografi merupakan hobi barunya meski baru menjajaki bidang ini kenginan belajar tentang hal yang baru sangat ia sukai, menyukai tantangan dan apa yang ingin diraihnya takkan pernah ia menyerah.

Baca Juga

620

619