Sang Inspirator, 60 Tahun Mengajar Ngaji Tanpa Pamrih

310
Kabupaten Solok, Eksposrakyat– Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberi manfaat terhadap manusia lain. Bisa saja dengan cara membantu mereka yang tengah dilanda kesusahan, atau mewariskan ilmu bermanfaat. Namun, jarang sekali dewasa ini dijumpai dua hal tersebut berada dalam satu diri manusia.
Irin
‘ Sang Inspirator’, Irin Rajo Mudo (73), guru ngaji

Tidak semulia pepatah dan harapan, setidaknya, gambaran tersebut terlukis dari perjalanan hidup Irin Rajo Mudo, (73). Dimana, lebih dari 60 Tahun, Irin “mewakafkan” dirinya menjadi guru mengaji tanpa pamrih atau tak dibayar di Munggu Tanah, Jorong Batupalano, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

  Renta bukan penghalang bagi lelaki yang sudah yatim-piatu sejak kanak-kanak ini untuk terus mengabdi dan memberikan ilmunya pada generai muda. Seandainya di inventarisir , hampir semua warga kampung di Munggu Tanah yang dihuni sekitar, 350. Kepala Keluarga (KK) ini, pernah dididik oleh  Irin Rajo Mudo. Bahkan, beberapa muridnya juga tersebar di Nagari Salayo, seperti di Sawah Pasir dan Sawah Sudut.
  Adapun, prestasi yang ditorehkan muridnya  tergolong memuaskan. Bahkan bisa dikatakan, dalam 10 Tahun belakangan ini, murid-murid mengajinya jadi favorit juara beberapa ajang lomba mengaji, khususnya tingkat Nagari Salayo. Namun, ada juga beberapa orang muridnya yang jadi kebanggaan dan menjadi wakil Kabupaten Solok dikancah MTQ tingkat Provinsi Sumbar.
  Namun, prestasi itu muncul tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Itu semua adalah pengaruh kharisma dari Irin yang menjadi motifasi para muridnya untuk terus memberikan yang terbaik. Walaupun dalam realitanya, Irin dikenal sebagai guru mengaji paling galak yang ditakuti para murid. Hal itu sudah jadi santapan sehari-hari para muridnya sejak setengah abad belakangan.
  “Kalau tidak pemarah, bukan Irin Rajo Mudo namanya. Tapi jujur, kalau bukan karena kerasnya didikan Beliau, kita mungkin tak pandai baca Al-qur’an dan Shalat sampai hari ini,” aku Ronaldi, (30), Senin (22/6) salah seorang murid mengaji Irin dulunya pada Eksposrakyat.
  Sedikit pemarah, keras serta selalu membawa segempal lidi yang sudah di ikat menjadi cambuk-cambuk kecil, memang sudah jadi tabiat dan ciri khas ayah 7 orang anak ini.  Dan suaranya yang lantang seringkali memecah keributan dari murid-murid yang bandel. Bahkan tak jarang, karena kerasnya Irin mendidik, Beliau, selalu dicerca dan diserang orangtua dan wali murid mengaji.
   Padahal, Irin mengajar tanpa dibayar sepeserpun jua. “Kalau cercaan dan marah-marah orangtua dan wali murid murid, sudah makanan saya sejak mulai mengajar mengaji di kampung ini,” sebut Irin Rajo Mudo.
  Kendatipun demikian, persoalan diserang wali murid bukan penghalang bagi Irin untuk terus mendidik. Irin berprinsip, jika niat ikhlas karena Allah SWT, apa yang dilakukan akan berjalan lancar dan baik-baik saja.
   “Guru saya, sempat berpesan sebelum meninggal dunia, agar sampai akhir hayat saya nanti, jangan pernah tinggalkan surau dan mesjid. Berikan terus ilmu pada generasi muda. Sebab, baik-buruknya generasii tergantung didikan orang-orang sebelumnya,” kata Irin yang hanya mengecam pendidikan hingga kelas 5 SD ini.
  Begitulah hari-harinya sejak mulai mengajar mengaji. Dimana, pagi hingga sore hari, Irin bekerja di sawah dan ladang untuk mencari nafkah menghidupi istri dan ketujuh orang anaknya. Setelah itu, masuk waktu magrib hingga selesai shalat Isya, hari-hari Irin dihabiskan di surau bersama murid yang silih berganti setiap tahunnya.
  “Alhamdulillah, rezeki lancar walaupun saya tidak jadi orang kaya dan hidup pas-pasan. Tapi saya puas,” kata, Irin yang merasa iba karena tak satupun dari 7 orang anaknya yang mengikut jejak sang ayah.
   Kini, Irin, menikmati hari tua di usianya yang sudah semakin larut dan Irin diminta masyarakat untuk menjadi Imam di Masjid Al-Kautsar, Munggu Tanah. Sekaligus menjadi “Angku Garin” Masjid tersebut. Namun, di hari-hari biasa, Irin tetap menjadi guru mengaji.
  “Tapi sekarang, karena usia, saya cuma duduk memantau dan yang bertanggungjawab atas murid-murid. Sementara saat ini yang mengajar ada guru lain dan bebarapa guru bantu lainnya. Saya tak turun lagi mengajar langsung,” tutupnya sembari bergegas hendak menunaikan shalat Dzuhur. (Riki/Devy Abenk)

Berlangganan Berita via Email :

Wartawan Muda, menulis di sejumlah Tabloid dan Mingguan Sumatera Barat.