Orangtua Guru Abadi

142

Opini

Guru kencing berdiri, murid kencingi guru ”. Agaknya pribahasa ini pas untuk menggambarkan kondisi kekinian, dimana para anak-anak sekarang menjadi latah dengan lingkungan, hingga warna lingkungan itu menjadi gaya hidupnya. Lingkungan keluarga khususnya adalah komunitas paling dekat.

DSC02880
Yulicef Anthoni – Wartawan Muda

Seorang anak jangan hanya dikira sebatas meniru/ membeo, malahan mereka bisa  lebih ” hebat “. Ketika lingkungannya suka berbohong,  mereka bisa mencuri.  Jika bapaknya suka pulang malam, si anak akan latah pulang pagi. Tatkala kedua orangtua sering ribut/ cekcok, anaknya suka tawuran, berantem antar sesamanya.  Keluarga adalah guru abadi.

Sekalipun waktu anak bersama keluarga sedikit dibanding di sekolah, namun waktu tersebut sangat mempengaruhi karakter, mental, dan kepribadian.  Ditambah faktor lingkungan sosial tempat tinggal juga memberikan warna secara alamiah. Maka tidak heran bila seorang anak terjebak dalam sebuah masalah, orangtuanya kerap ikut dibawa-bawa. Misalnya ” si Badu anak si Anu, atau si itu anak si Anu”. Paling parah adalah si ayah bayar hutang tak makan.

Di Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat, hukum sosial ini relatif masih melekat, dari generasi ke generasi terus mengalir. Ketika si anak berbuat menyimpang, bapaknya akan ikut menuai nama buruk. Begitu sebaliknya, keberhasilan seorang anak juga cenderung mengangkat nama baik orangtuanya, atau ibunya. Demikian benar kelekatan si anak dengan orangtua, bak dua sisi mata uang, saling terkait.  Di banyak daerah bisa jadi akan begitu pula.

Namun uniknya ketika orangtua meraih kesuksesan, jarang lingkungan menyebut “ayah si Anu”, atau ibu si Anu. Kalaupun ada itupun cuma sedikit.  Justru keberhasilan tersebut oleh lingkungan cenderung dipandang sebagai  buah perjuangan individu. Padahal si anak juga secara moral menjadi motivasi bagi orangtuanya, sehingga apapun alasannya jati diri seorang anak sangat dipengaruhi orangtua, maupun keluarga.

Termasuk dalam fungsi mendidik, dalam arti kata menempa  ilmu pengetahuan secara akademis, seyogyanya cukup dipengaruhi campur tangan orangtua, dan keluarga.  Hanya saja dalam hal ini banyak kalangan meremehkan, mungkin lantaran sibuk, tidak punya cukup waktu, dan lain sebagainya. Sehingga fungsi pendidikan cenderung hanya ditimpakan pada guru di sekolah. Padahal fungsi ini bila ditunaikan tidaklah akan menyita waktu, apalagi mengganggu rutinitas maupun pekerjaan, sebagaimana dicemaskan.

Agar dipahami, muatan psikologi sangat mempengaruhi daya serap anak dalam menerima ilmu pendidikan, sekalipun itu hanya dalam bentuk mengontrol atau mengarahkan. Dimana antara orangtua dan anak punya pertalian batin, hingga asupan ilmu pengetahuan pada si anak akan lebih leluasa dicerna, sekaligus memberikan kenyamanan. Maka sangat ideal jika orangtua ikut mempedulikan proses pembelajaran anaknya, hingga secara kontinue terjalin hubungan timbal-balik antar guru – orangtua, guna mengawal perkembangan pengetahuan anak.

Jangan orangtua hanya mencampuri urusan anak ketika ada masalah saja, misalnya disaat datang surat panggilan sekolah lantaran anak sering membolos, melakukan pelanggaran, nilai ulangan jeblok, bandel, serta lain sebagainya. Lantas orangtua merasa malu, kesal, hingga si anak dimarahi bahkan dihukum. Padahal kasus seperti ini harusnya dijadikan ajang pembelajaran untuk dicarikan solusinya, bukannya mengedepankan ego untuk menutup kekurangan.

Penulis mengambil sampel kasus sekitar November tahun 2016 lalu, seorang anak kelas II Sekolah Dasar  (SD) di Kota Solok mendadak dikeluarkan dari sekolah lantaran sering bolos. Dimana karena sering bolos, mengakibatkan target pembelajaran tidak tercapai, hingga si anak kesulitan mengejar kemampuan teman-temannya. Sebagai solusi si anak diberhentikan,  dan disarankan mengulang  masuk sekolah tahun depan.

Karena tidak punya pilihan, ditambah orangtua bersangkutan punya SDM terbatas ( ayah tamat SMP – Ibu tamat SD), akibat sejauh ini orang tua juga sudah sering dipanggil sekolah atas berbagai masalah, terpaksa langkah pemberhentian menjadi pilihan. Untuk mengisi waktu sehari-hari selanjutnya si anak disuruh membantu keluarga berjualan gorengan keliling, serta menjadi tukang  parkir di Pasar Raya Solok.

Ini baru sampel kasus, dan juga masih ada dua kasus lainnya dengan motif berbeda di Solok. Seperti salah satu kasus yang agak spesifik, yakni seorang anak berhenti sekolah sejak 4 tahun silam, dan kini arah hidupnya tak tentu arah. Kadang si anak jadi pengemis, tidur sembarang tempat, hingga terlibat pelecehan seksual. Sedangkan orangtuanya selalu sibuk bekerja jadi PKL di komplek Pasar Solok, hingga si anak tidak diurus.

Bahkan yang terbaru, sepasang mahasiswa PTS terkemuka Kota Padang tertangkap basah berbuat tak senonoh dalam WC Umum sebuah komplek Masjid, hingga oleh warga kasus tersebut diserahkan ke Satpol PP Kota Padang, Selasa (25/4). Tak pelak keduanya menjalani proses pemeriksaan, sampai akhirnya masing-masing orangtua dipanggil sebelum dilepaskan setelah menandatangani surat perjanjian akan menikah. Masih untung  pasca tertangkap tidak sempat diamuk massa, seandainya diamuk massa pastilah bertambah berat masalah menimpa.

Sungguh disayangkan, jauh-jauh pergi kuliah dari kampung, biaya besar, tidak disangka malah terpeleset ke jurang maksiat, masa depan terancam buyar. Dapat dibayangkan betapa hancurnya hati kedua orangtua, biaya kuliah dengan bersusah payah dicari seakan terbuang percuma. Urusan perut kadang dikesampingkan demi menyambung kuliah sang anak, begitupun uang belanja keluarga diperirit seirit mungkin.

Namun demikian, semoga petaka segera berlalu dan berganti lembaran baru yang lebih baik, lingkungan sosial menerima kenyataan penuh pengertian dengan mengedepankan prinsip berlapang dada.

Lain halnya dengan anak yang satu ini, yakni anak seorang pemulung, sebut saja namanya Mawar, asal Koto Baru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, beberapa waktu lalu berhasil menyelesaikan studi S.1 di sebuah perguruan tinggi terkemuka dengan menyandang predikat lulus sangat memuaskan. Luarbiasa, dalam menggapai cita-citanya mawar hanya bergantung  pada sang ibunda, uang belanja pas-pasan, malah sering tekor, sementara sang ayah telah lama meninggal. Berkat perjuangan yang sungguh-sungguh akhirnya berhasil juga.

Kenapa berhasil ? Ternyata rahasianya memang  terletak ditangan orang tua dan keluarga, terutama sang ibu yang sekaligus menjadi Kepala Keluarga bagi si Mawar. Bimbingan mental disertai motivasi senantiasa ditanamkan, hingga setiap nasehat yang diberikan melekat jadi penyuluh. Seberapapun derasnya pengaruh lingkungan, ditambah lagi ketatnya persaingan gaya hidup,  prinsip tetap di nomor satukan jadi pakaian.  Alhamdulilah kakak si bungsu telah siap mengadu nasib di jalur Tes CPNS, sekiranya ditahun ini lowongan itu ada.

Bangun Komunikasi Sejak Dini

Dalam berbagai acara seminar tingkat daerah, provinsi hingga nasional sering muncul pertanyaan, sejak kapan penanaman nilai-nilai edukasi diikuti bimbingan mental bagi si anak harus ditanamkan. Jawabannya adalah sejak dini, atau sedini mungkin.

Ketika anak mulai menginjak usia 3 tahun seyogyanya orangtua harus mulai intensif melakukan bimbingan edukatif dan ilmiah. Perlahan tapi pasti, sesuai tingkat kemampuan dan kematangan si anak itu sendiri. Tidak masalah jika proses asuhan dipercayakan pada babysiter/ pembantu, selagi orangtua tetap pandai membagi waktu untuk anaknya. Hingga antara orangtua dan anak merasa saling membutuhkan.

Begitu memasuki masa kanak-anak, secara bertahap mulailah tingkatkan rasa kepedulian akan pengetahuan dan pendidikan, begitu seterusnya. Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana yang penting terserap, melekat tanpa beban. Sambil bermain jika perlu, tetap efektif, jangan pernah merasa bosan. Dengan sendirinya si anak akan merasa jika orangtuanya adalah guru abadinya.

Misalnya sambil bermain belajar mengenal angka, huruf, warna, gambar, tumbuhan, binatang, hingga ilmu alam; siang dan malam, matahari – bulan, berikut ajaran agama.

Ketika mulai masuk sekolah formal tingkat PAUD, TK, SD, dengan sendirinya si anak tanpa beban senang menyerap setiap bekal ilmu sebagaimana diajarkan guru di sekolah, hingga setiap ilmu itu relatif melekat. Disaat orangtua bersamanya di rumah jangan sungkan menanyakan pelajaran sekolah untuk kembali diulang dan dipahami. Jika perlu orang tua ikut meberikan nilai secara khusus, hindari berbentuk hadiah. Karena dengan motivasi hadiah cenderung menjadikan anak manja, malas, bawel.

Sebelum terlambat, jadilah sahabat, guru besar sekaligus orangtua bagi si anak dalam menjalankan fungsi mendidik. Diikuti bimbingan mental, karakter, spitual, supaya mereka kelak menjadi anak yang berhasil, berguna bagi Nusa dan Bangsa. (***)

 

 

Berlangganan Berita via Email :

Wartawan Muda, menulis di sejumlah Tabloid dan Mingguan Sumatera Barat.