aceh

420

Aceh Utara – Sebanyak 14.250 buku yang terdiri dari buku bacaan fiksi dan non fiksi dibagikan kepada 96 sekolah mitra USAID PRIORITAS pada 4 kabupaten di Provinsi Aceh (Aceh Utara, Pidie Jaya, Aceh Tamiang dan Abdya). Pemberian buku dalam rangka menumbuhkembangkan kembali budaya membaca di sekolah mendapat sambutan secara positif, “Program ini dalam rangka mengembangkan gemar membaca bagi para siswa,” kata Ridwan Ibrahim koordinator USAID PRIORITAS provinsi Aceh pada kegiatan pembagian buku secara simbolis di SMAN 1 Tanah Jambo Aye Pantonlabu, Aceh Utara (22-23/6).

Untuk memberikan buku yang bermutu bagi siswa, seperti buku yang mengandung nilai pendidikan moral dan budaya serta menghindari buku-buku yang bertentangan dengan norma-norma agama serta pendangkalan akidah, maka dilibatkan utusan sekolah (guru dan kepsek), dinas pendidikan dan kemenag untuk melakukan seleksi dan menentukan buku yang layak diberikan kepada sekolah. “Sekolah menyeleksi sendiri buku bacaan yang layak baca, selanjutnya setiap sekolah berdiskuki dan rapat pleno semua peserta untuk menentukan buku. Buku yang layak dibaca oleh guru tetapi tidak layak dibaca oleh siswa juga tidak akan dihibahkan,” jelas Ridwan.

Salah seorang penyeleksi dari Kemenag Aceh Utara, Ridwan Fajri mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai cara yang tepat untuk membagikan buku kepada sekolah, “Kegitan ini sangat tepat dilakukan untuk menghindari buku-buku yang tidak layak baca bagi siswa terutama yang berkaitan dengan pendangkalan akidah, sekolah secara langsung terlibat bersama pemda untuk menyeleksi buku dapat dicontohi oleh pihak lain yang berencana menghibahkan buku kepada sekolah,” jelas Fajri. “Metode seperti ini lebih efektif dan lebih mudah difahami,” katanya lagi.

Senada dengan Fajri, Kepala sekolah MTsN Tanah Jambo Aye, M Rusli mengungkapkan rasa terimakasih atas pemberian buku untuk madrasahnya, “Saat ini memang kami sangat memerlukan tambahan buku bacaan di madrasah guna mendukung budaya baca yang telah kami terapkan di sekolah, akan tetapi kami juga tidak ingin menerima buku yang tidak layak baca bagi siswa sehingga proses penyeleksian buku ini sangatlah tepat dilakukan.” Jelasnya. M Rusli mengaku saat ini sekolahnya sudah mengembangkan budaya membaca, “Budaya baca di madrasah kami dengan menerapkan wajib baca 15 menit setiap senin setelah upacara dan remedial bagi yang belum lancar membaca,” katanya.

490

mesjid rayaKe Aceh belum lengkap rasanya bila tak berkunjung ke Mesjid Raya Baiturrahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi paling barat Indonesia. Mesjid ini memiliki arsitertur dan ornamen indah, inilah salah satu mesjid yang termegah di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Mesjid Raya Baiturrahman tidak sekedar berfungsi sebagai sebuah tempat religius semata, tetapi juga mempunyai makna yang mendalam bagi masyarakat Aceh berkaitan dengan sejarah pendudukan Belanda di daerah ini. Ketika Belanda belum menduduki Aceh, mesjid ini dipergunakan oleh pejuang-pejuang Aceh sebagai markas pertahanan mereka.

Mesjid yang mampu menampung 15 ribu jemaah tersebut telah menjadi simbol rekam jejak sejuta sejarah. Masa kesultanan, penjajahan belanda, aceh bergolak, daerah operasi militer, darurat militer, darurat sipil, tsunami, hingga perjanjian damai terukir di mesjid ini.

Mesjid Raya Baiturrahman memiliki tujuh kubah hitam yang menjulang ke langit-langit Kota Banda Aceh. Kubah-kubah dimaksud disangga 136 tiang bundar dan 32 pilar segi empat. Posisi kubah berada di atas bangunan mesjid berukuran 56 x 34 meter. Bangunan itu juga dikelilingi serambi berukuran 12,5 x 10,5 meter.

Arsitektur mesjid ini bercorak eklektik yaitu gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri. Eklektik itu terlihat pada tiga pintu bukaan serta jendela yang bisa berfungsi sebagai pintu masuk. Jendela ini dibentuk empat tiang langsing silindris, model arsitektur mooris. Gaya ini banyak terdapat pada mesjid di Afrika Utara dan Spanyol.

Sementara bagian tengah ruang shalat, berbentuk bujur sangkar. Atap di tengah mesjid ditutupi kubah utama bercorak bawang. pucuknya dihiasi kubah, mirip mesjid-mesjid kuno di India.

Pada jendela yang berfungsi pintu, terdapat ukiran indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahan, mesjid ini ditempatkan di tengah lapangan terbuka. Sehingga semua bagian mesjid jelas terlihat juga dari kejauhan

Tepat di depan mesjid ini terdapat sebuah kolam dan Menara Tugu Modal. Menara/Tugu Modal merupakan sebuah menara sebagai monumen bahwa Aceh pernah dinyatakan sebagai Daerah Modal di dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Menara ini terdiri dari enam lantai yang dapat dicapai melalui lift maupun tangga biasa

 

297

gvjhSelanjutnya beberapa bunyi (fonem) vokal yang terdapat dalam bahasa Aceh tidak ditemui dalam tatabunyi bahasa Indonesia. Namun demikian bunyi-bunyi itu hampir bersaamaan dengan bunyi (fonem) yang terdapat dalam bahasa lain.

Adapun bunyi-bunyi tersebut adalah:

A. Vokal Tunggal

1. ô

Seperti dalam kata: bôh (mengisi), gadôh (lalai) dan lain-lain. Dalam bahasa Indonesia bunyi seperti itu hanya dapat disamakan dengan bunyi o yang terdapat dalam kata: julo-julo, apolo. Sedangkan tanda diakritik tidak digunakan pada vokal o bahasa Indonesia.

2. ö

Seperti dalam kata: böh (mengisi), gadöh (hilang), gidöng (menginjak). Bunyi ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi sama dengan bunyi ö dalam kata rengö (mendengar), wör (terbang), awerö (mabuk) dalam bahasa Jawa Kuno. Bunyi ini hampir sama pula dengan bunyi ö dalam kata hören (mendengar), schön (cantik) dalam bahasa Jerman.

3. ‘a

Seperti dalam kata ‘ab (suap), s’ah (bisik), meuh’ai (mahal). Bunyi ini juga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi hampir sama dengan bunyi konsonan sengau: ain ( ع ) dalam kata : ‘alamun ( ( علم(dunia) dalam bahasa Arab.

4. ‘ i
Seperti dalam kata: meu’i’i (suara tangis), ‘ibadat (ibadah). Bunyi ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi hampir sama dengan bunyi konsonan: ain dalam kata: ‘isyâun (sore) dalam bahasa Arab.

5. eu
Seperti dalam kata: keudé (kedai), leungö (goyang), areuta (harta). Bunyi inipun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi sama dengan bunyi eu dalam kata: baheula (dahulu) dalam bahasa Sunda.

6. ‘ u
Seperti dalam kata: ôn’u (daun kelapa kering), ‘usô (using), meu’u’u (bunyi angin bertiup). Bunyi (fonem) ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi hampir sama dengan konsonan ‘u dalam kata ‘umron (umur) dalam bahasa Arab.

7. ‘ è
Seperti dalam kata ‘èt (pendek), pa’è (tokek), ‘ètikeuet (niat). Fonem (bunyi) ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi sama dengan bunyi i dalam kata: pain (roti) dalam bahasa Perancis.

8. ‘o
Seperti dalam kata: meu’o’o (mengigau), sy’ob (getik), kh’ob (busuk). Bunyi ini tidak terdapat dari bahasa Indonesia, tetapi sama bunyinya dengan bunyi o dalam kata: maison (rumah) bahasa Perancis.

B. Vokal Rangkap.

1. èe
Seperti dalam kata: Teubèe (tebu), kayèe (kayu), batèe (batu). Bunyi bahasa ini tidak terdapat dalm bahasa Indonesia, tetapi bunyi e pada èe bertugas sebagai perpanjangan dan diucapkan hamper sama dengan y.

2. eue
Seperti dalam kata: eue (lapang/mandul), keubeue (kerbau), uleue (ular), pageue (pagar). Bunyi ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e kedua pada eue berfungsi atau bertugas sebagai perpanjangan dan diucapkan hamper sama dengan bunyi y.

3. ie
Seperti dalam kata: ie (air), mie (kucing), sie (daging/potong), lieh (jilat). Bunyi ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e pada ie berfungsi dama dengan bunyi e tersebut di atas yaitu diucapkan seperti bunyi y.

4. ue
Seperti dalam kata: yue (suruh), sue (ampas), bue (kera), kue (ikat). Bunyi bahasa ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan dan diucapkan seperti bunyi w. Bunyi ini hampir sama ucapannya dengan bunyi u dalam kata poor (miskin) bahasa Inggris.

5. ui.
Seperti dalam kata: bui (babi), phui (ringan), cui (cungkil). Bunyi bahasa ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi i diucapkan seperti y. Bunyi bahasa ini sama ucapannya dengan bunyi uy dalam kata: tuluy (menembus), tamuy (tamu) dalam bahasa Jawa Kuno.

6. ôi
Seperti dalam kata : bhôi (kue bulo), cangkôi (cangkul), tumpôi (tumpul). Bunyi Bahasa ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi i sesudah o hampir sama ucapannya dengan bunyi y.

7. oe
Seperti dalam kata: baroe (kemarin), sagoe (sudut), duroe (duri). Bunyi bahasa ini juga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai sebagai perpanjangan vocal o dan pada akhir kata diucapkan seperti bunyi w.

8. ‘ai
Seperti dalam kata: meuh’ai (mahal). Bunyi bahasa ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi i berfungsi sebagai perpanjangan setelah vocal sengau ‘a dan pada akhir kata bunyi i diucapkan seperti bunyi y.

9. ‘ue
Seperti dalam kata: ‘uet (telan), meu’ue (membajak), neuk’uet (menir). Bunyi bahasa ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan setelah vocal ‘u dan pada akhir kata diucapkan seperti bunyi konsonan w.

10. ‘eue
Seperti dalam kata ‘eue (merangkak), Bunyi vocal rangkap ini juga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan setelah vocal sengau ‘eu dan pada akhir kata diucapkan sama dengan konsonan y yang disertai sengau.

11. ‘èe
Seperti dalam kata: jeu‘èe (tampan), peuna‘èe (cari pasal/ulah). Vocal rangkap ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi vocal e berfungsi sebagai perpanjangan setelah bunyi vocal sengau ‘è dan pada akhir kata diucapkan sebagai bunyi y.

Selain dari bunyi bahasa-bunyi bahasa yang telah disebutkan di atas, perlu kita perhatikan pula cara menulis huruf dalam ejaan bahasa Aceh. Beberapa huruf mempunyai tanda diakritik.

Adapun tanda diakritik itu terdapat pada huruf e dan huruf o yang berfungsi membedakan bunyi ucapannya. Perbedaan ucapan itu akan menyebabkan perbedaan arti kata. Hal itulah yang menyebabkan maka dalam ejaan bahasa Aceh ada tanda aksen aigu dan aksen (accent) grava untuk huruf e dan tanda trema ( ¨ ) untuk huruf o . Selain dari/ialah untuk membedakan suara rendah dan suara tinggi yang terdapat pada huruf o, yang berfungsi membedakan arti kata. Sebagai contoh tanda diakritik yang terdapat dalam bahasa Aceh, misalnya: èk (tahi), ék (naik/mau), bôh (mengisi), böh (buang), boh (buah).

Apabila kita perhatikan contoh-contoh tersebut di atas, kiranya tidak akan timbul kekeliruan dalam mengucapkan dan menulis tanda-tanda tersebut, yakni sering bertukarnya tanda aksen sigu dan aksen grave.

283

gvjhDalam mempelajari atau mengajarkan bahasa Aceh perlu kita perhatikan beberapa bunyi bahasa (fonem) yang berbeda dengan bunyi bahasa (fonem) yang terdapat dalam bahasa Indonesia.

Jika bunyi bahasa-bahasa Aceh kita bandingkan dengan bunyi bahasa-bahasa Indonesia maka terdapatlah perbedaan-perbedaan bunyi (fonem) sebagai berikut:

1. Di dalam bahasa Aceh terdapat konsonan gabung (cluster) baik pada suku pertama maupun pada suku kedua, misalnya:
Pada suku pertama Pada suku kedua
dhoe = dahi, atra = harta
kha = berani, jakhab = terkam
brôh = sampah, geundrang = gendering
glang = cacing, ablak = (sejenis) hiasan
pha = paha, subra = riuh rendah
cheue = teduh, ganchéb = kuncikan
dan lain-lain dan lain-lain

2. Bunyi d dan t disuarakan dengan menggerakkan ujung lidah pada langit-langit dekat akar gigi atas.

3. Bunyi d yang terdapat pada akhir kata bahasa Indonesia menjadi bunyi t dalam bahasa Aceh, misalnya: Ahad menjadi Aleuhat (hari Minggu) dalam bahasa Aceh.

4. Bunyi p tidak pernah terdapat pada pada akhir kata, sehingga bunyi p yang terdapat pada akhir kata bahasa Indonesia menjadi b dalam bahasa Aceh, misalnya: hadap dalam bahasa Indonesia menjadi hadab dan asap menjadi asab dalam bahasa Aceh.

5. Diftong èe dalam bahasa Aceh, kadang-kadang menggantikan bunyi u dalam bahasa Indonesia, misalnya:
tahu – tahèe – thèe, kayu – kayèe, asu – asèe
kutu – gutèe, batu – batèe, bulu – bulèe
pangku – pangkèe, baju – bajèe, jamu – jamèe
guru – gurèe, malu – malèe, ribu – ribèe
tentu – teuntèe, palu – palèe, dan lain-lain.

6. Bunyi oe bahasa Aceh kadang-kadang menggantikan bunyi i bahasa Indonesia, misalnya:
puteri – putroe, kami – kamoe, tuli – tuloe
mandi – manoe, jari – jaroe, laki – lakoe
kemudi – keumudoe, puji – pujoe, ganti – gantoe
negeri – nanggroe, adik – adoe, dan lain-lain

7. Bunyi eue bahasa Aceh kadang-kadang menggantikan bunyi a pada suku kedua yang mendahului konsonan penutup bahasa Indonesia, misalnya:
bulan – buleuen, salam – saleuem, udang – udeueng
hutan – uteuen, atas – ateueh, lintang – linteueng
anak – aneuek, layar – layeue, orang – ureueng
pinang – pineueng, papan – papeuen, dan lain-lain

8. Bunyi r pada akhir kata bahasa Indonesia, biasanya menjadi hilang dalam bahasa Aceh, misalnya:
ular – uleue, ukur – ukô, alur – alue
kapur – gapu, layar – layeue, dengar- deungö
sekadar – sekada, sabar – saba, dan lain-lain

9. Bunyi s pada akhir kata bahasa Indonesia, biasanya berubah menjadi bunyi h dalam bahasa Aceh, misalnya:
habis – abéh, kipas – kipah, balas – balah
hangus – angòh, mas – meuh, halus – halôh
tipis – lipéh, beras – breueh, keras – kreueh
gelas – glah, putus – putôh, harus – harôh
kapas – gapeueh, tikus – tikôh, Kamis – Haméh
ramas – ramah, peras – prah, tawas – tawah
ibus – ibôh, nafas – nafah, dan lain-lain

254

jalanSigli – Senin (05/01/2015) Seiring bertambahnya pertumbuhan pembangunan rumah di sepanjang pinggiran sungai jalan lampoh ranup di dusun barat Gampong Pasar Kota Bakti, maka diperlukan juga sarana pendukungnya. Oleh sebab itu, pemerintahan Gampong Pasar membuat jalan yang menghubungkan jalan lampoh ranup dengan meunasah sehingga mempermudah warga untuk ke meunasah dan pasar karena bisa ditempuh dengan waktu yang singkat dan tidak perlu memutar seperti biasanya.

Jalan ini dibangun dengan dana bersumber dari APBA 2014 dan dikerjakan pada awal bulan desember 2014 oleh kontraktor dengan panjang sekitar 243 meter dan lebar 4 meter. Lama pengerjaan jalan yang berdampingan dengan lapangan bola kaki ini sekitar seminggu.

Keuchik berharap dengan dibangunnya jalan ini bisa mempermudah masyarakat, “Semoga jalan baru ini dapat mempermudah warga untuk ke pasar dan meunasah, kedepannya akan kita sempurnakan lagi dengan membuat talut sehingga jalan tidak longsor”