Pendidikan

448

Aceh Utara – Sebanyak 14.250 buku yang terdiri dari buku bacaan fiksi dan non fiksi dibagikan kepada 96 sekolah mitra USAID PRIORITAS pada 4 kabupaten di Provinsi Aceh (Aceh Utara, Pidie Jaya, Aceh Tamiang dan Abdya). Pemberian buku dalam rangka menumbuhkembangkan kembali budaya membaca di sekolah mendapat sambutan secara positif, “Program ini dalam rangka mengembangkan gemar membaca bagi para siswa,” kata Ridwan Ibrahim koordinator USAID PRIORITAS provinsi Aceh pada kegiatan pembagian buku secara simbolis di SMAN 1 Tanah Jambo Aye Pantonlabu, Aceh Utara (22-23/6).

Untuk memberikan buku yang bermutu bagi siswa, seperti buku yang mengandung nilai pendidikan moral dan budaya serta menghindari buku-buku yang bertentangan dengan norma-norma agama serta pendangkalan akidah, maka dilibatkan utusan sekolah (guru dan kepsek), dinas pendidikan dan kemenag untuk melakukan seleksi dan menentukan buku yang layak diberikan kepada sekolah. “Sekolah menyeleksi sendiri buku bacaan yang layak baca, selanjutnya setiap sekolah berdiskuki dan rapat pleno semua peserta untuk menentukan buku. Buku yang layak dibaca oleh guru tetapi tidak layak dibaca oleh siswa juga tidak akan dihibahkan,” jelas Ridwan.

Salah seorang penyeleksi dari Kemenag Aceh Utara, Ridwan Fajri mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai cara yang tepat untuk membagikan buku kepada sekolah, “Kegitan ini sangat tepat dilakukan untuk menghindari buku-buku yang tidak layak baca bagi siswa terutama yang berkaitan dengan pendangkalan akidah, sekolah secara langsung terlibat bersama pemda untuk menyeleksi buku dapat dicontohi oleh pihak lain yang berencana menghibahkan buku kepada sekolah,” jelas Fajri. “Metode seperti ini lebih efektif dan lebih mudah difahami,” katanya lagi.

Senada dengan Fajri, Kepala sekolah MTsN Tanah Jambo Aye, M Rusli mengungkapkan rasa terimakasih atas pemberian buku untuk madrasahnya, “Saat ini memang kami sangat memerlukan tambahan buku bacaan di madrasah guna mendukung budaya baca yang telah kami terapkan di sekolah, akan tetapi kami juga tidak ingin menerima buku yang tidak layak baca bagi siswa sehingga proses penyeleksian buku ini sangatlah tepat dilakukan.” Jelasnya. M Rusli mengaku saat ini sekolahnya sudah mengembangkan budaya membaca, “Budaya baca di madrasah kami dengan menerapkan wajib baca 15 menit setiap senin setelah upacara dan remedial bagi yang belum lancar membaca,” katanya.

295
salah satu pembangunan hotel di Yohgakarta
salah satu pembangunan hotel di Yohgakarta

Yogyakarta – Maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta menimbulkan berbagai dampak pada masyarakat umum. Sebagai kota wisata terdepan di Indonesia, Jogja tentunya mebmberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan. Selain pusat belanja fasilitas penginapan telah menjamur. Hotel-hootel baru yang dibangun makin bersinggungan dengan kepentingan warga.

Adanya tawar menawar kebutuhan ekonomi dan investor sering tidak memikirkan dampak kedepan. Seperti kebutuhan lahan, air bersih, jalan dan sekolah mulai tergeser. Sebut saja SMA Marsudi Luhur, yang kini berubah menjadi hotel.

Jika melihat kota Yogyakarta yang notabene identik dengan kota pelajar, kini yang tampak adalah bangunan hotel di berbagai sudut. “Dulu Jogja masih enak, sekarang banyak hotel,” ujar seorang alumni sekolah di Yogyakarta. “Eksistensi Kota Pelajar kini sudah bergeser,” begitu tanggapannya.

Beberapa sekolah lain berhimpitan dengan hotel. Seperti SMP Taman Dewasa Jetis, Yogyakarta kini berhadapan langsung dengan hotel dan SMAN 10 Yogyakarta bersebelahan dengan hotel, dulu bekas gedung pegadaian.

Selain itu tempat belajar yang harusnya kondusif harus menerima nasib yang kurang enak. SMPN 3 Yogyakarta, Pajeksan yang juga bersebelahan dengan pembangunan hotel harus rela proses pendidikannya terganggu. Selain adanya proyek juga disebabkan pembangunan hotel telah merusak pagar sekolah.

Sedangkan SMA 17 “1” Yogyakarta, Bumijo yang dulunya bekas markas Tentara Pelajar, kini masih dalam sengketa. Kondisinya memprihatinkan dan bangunan banyak yang rusak. (day)

569
Anak-anak bermain di Gajahwong Educational Park
Anak-anak bermain di Gajahwong Educational Park

Yogyakarta – Pengembangan ruang terbuka di Yogyakarta kini kian marak. Daerah aliran sungai (DAS) yang dulu tidak dihiraukan, kini dikembngkan menjadi halaman depan. Beberapa DAS di Yohyakarta mulai dijadikan taman bermain bahkan tempat wisata, salah satunya adalah Gajah Wong Educational Park.

Gajah Wong Edu-park terletak di pinggiran sungai Gajah Wong yang diantaranya melintasi kebun binatang Gembiraloka. Taman yang berlokasi di Gambiran, Kota Yogyakarta tersebut menjadi sarana pendidikan dan rekreasi keluarga. Selain berfungsi mengenal daerah sungai, di lokasi juga terdapat fasilitas seperti pendopo kecil, gardu pandang dan bank sampah.

Untuk menikmati suasana taman dan sungai Gajah Wong tidak dipungut biaya. Namun demikian pengunjung selalu dihimbau menjaga kebersihan lokasi. “Kalau disini tidak dipungut biaya, namun harus ikut menjaga kebersihan,” ungkap Agus Supriyanto, selaku ketua Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai (FORSIDAS). (day)

163

Banda Aceh, Kepala Dinas Pendidikan, Anas M. Adam dan Kakanwil Kemenag Aceh, Ibnu Sa’adan sepakat peningkatan mutu pendidikan harus dimulai dari unit-unit pelatihan sekolah seperti MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) untuk tingkat SMP/MTs dan KKG (Kelompok Kerja Guru) untuk tingkat SD/MI. “Kita akan perkuat MGMP dan KKG untuk mendorong percepatan peningkatan mutu pendidikan dan implementasi Kurikulum 2013,” kata Anas dihadapan peserta “Pelatihan untuk Pelatih Modul 2 Provinsi Aceh untuk tingkat SMP/MTs” di Sulthan Hotel Banda Aceh yang akan berlangsung hingga 8 Juni 2014. Kadisdik menegaskan bahwa Pemerintah Aceh akan membantu biaya untuk menghidupkan kembali MGMP, “Provinsi sudah mengalokasikan sejumlah dana untuk mengaktifkan kembali MGMP. Tetapi bagaimanapun juga mutu pendidikan bukan hanya tanggung jawab provinsi, kabupaten/kota juga harus mendukungnya dan yang menjadi kunci suksesnya adalah para guru, kepala sekolag dan pengawas.” Jelas Anas.

Senada dengan Kadisdik, Kakanwil Kemenag Aceh mengharapkan dari KKG/MGMP guru dapat meningkatkan keakraban sesama guru dan kepala madrasah/sekolah yang akan berdampak kepada siswa, “Melalui MGMP dan KKG kita membina ukhwah keakraban antar guru, antar kepala yang akan berdampak kepada keakraban guru/kepala dengan siswa.” jelas Ibnu Sa’adan. “Hal ini merupakan salahsatu tanggung jawab moral guru, sehingga guru bisa menjadi tempat curahan hati bagi siapa saja terutama bagi siswanya,” kata Ibu Sa’adan lagi.

35 Fasilitator daerah yang dilatih oleh USAID PRIORITAS tersebut fokus kepada pengelolaan rencana pembelajaran sesuai dengan Kurikulum 2013. Pada pelatihan ini fasilitator daerah akan diberi pendalaman tentang Kurikulum 2013, mendisain Lembar Kerja Siswa (LKS), mendisain Rubrik Penilaian Autentik, dan Literansi Lintas Kurikulum untuk berbagai mata pelajaran.

Program USAID PRIORITAS akan membantu Pemerintah Aceh untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran di 6 kabupaten mitranya di Aceh hingga 2017. Selain pada tingkat kabupaten/kota, Program ini juga bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan UIN Ar Raniry di Banda Aceh untuk mendukung program pendidikan guru yang berkualitas baik pra maupun dalam jabatan.

159

Banda Aceh – Kepala Dinas Pendidikan Aceh Anas M. Adam menegaskan ditahun ini telah dialokasikan anggaran daerah lebih dari 300 milyar untuk peningkatan mutu pendidikan, ”Tahun ini cukup banyak dana yang dialokasikan untuk pelatihan yang bersumber dari provinsi dan kabupaten/kota yaitu lebih dari 300 milyar,” jelas Anas saat menutup kegiatan Pelatihan bagi tenaga Fasilitator Daerah (Fasda) USAID PRIORITAS di Hermes Palace Hotel Banda Aceh. “Termasuk kita akan melatih pengelola pelatihan atau penyelenggara pelatihan agar mereka paham apa itu pelatihan, sehingga tidak membuat pelatihan yang asal-asalan dan tidak professional,” lanjutnya. Pengelola pelatihan yang dimaksud Anas adalah tim teknis dan kurikulum dinas pendidikan, pengawas, pegawai PPMG dan UPTD di kabupaten/kota. Anas juga mengingatkan bahwa untuk menjamin mutu pelatihan, maka disemua tempat pelatihan terutama PPMG akan dipasang CCTV, “Semua tempat pelatihan akan kita pasang CCTV, sehingga secara mobile kami dapat memantau keberadaan dan kualitas pelatihan,” jelasnya. Ia berharap dana yang dialokasikan tidak menguap begitu saja tanpa dampak yang signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan di Aceh. Pelatihan perubahan Kurikulum menjadi dominan di tahun ini, dinas pendidikan bersama LPMP akan melatih 22 ribu guru SD selama lima hari di berbagai kabupaten/kota.

Dihadapan Fasda yangt telah menyelesaikan tahap pelatihan Praktik yang Baik dalam Pembelajaran dan Manajemen Sekolah untuk tingkat SD/MI selama 7 hari tersebut Anas berharap dapat memanfaatkan ilmu dan menyebarluaskannya kepada guru-guru saat pelatihan di sekolah. 66 Fasda untuk tingkatan SD/MI tersebut berasal dari Kabupaten Aceh Jaya, Bener Meriah, Aceh Barat Daya, Pidie Jaya, Aceh Utara dan Aceh Tamiang yang sebagian besar adalah guru SD/MI, kepala sekolah dan pengawas. Para Fasda tersebut adalah orang-orang terbaik yang direkrut di daerah mereka masing-masing yang seleksinya dilakukan secara bersama antara Dinas Pendidikan, Kementerian Agama dan perwakilan USAID PRIORITAS. Fasda merupakan asset daerah untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di kabupatennya, mereka akan melatih sekolah-sekolah binaan dalam rangka mempercepat akses pendidikan dasar yang berkualitas.